Dunia kesehatan menyambut gembira ketika pada tahun 1960, Alexander Fleming menemukan antibiotik penisilin, dan keberhasilannya menyembuhkan luka infeksi pada perang dunia ke 2 , bahkan seorang dokter bedah dari Amerika menyampaikan sebuah kalimat yang terkenal pada masa itu “Sudah waktunya bagi kita untuk menutup buku pada penyakit infeksi, dan mendeklarasikan kemenangan atas peperangan melawan wabah”.

 

 

KEMENANGAN YANG TAK BERLANGSUNG LAMA

Akan tetapi kabar gembira itu hanya berlangsung sekitar 4 tahun karena setelah itu ternyata penisilin tidak mampu mengobati semua luka terinfeksi, dan masalah barupun muncul yaitu Kekebalan antibiotik ( resistensi antibiotik ) . Kekebalan antibiotik adalah adalah kemampuan bakteri ( penyebab penyakit ) untuk menahan efek dari obat, akibatnya bakteri penyebab penyakit itu tidak mati setelah pemberian antibiotik. Hal ini disebabkan karena pada saat seseorang menderita penyakit yang disebabkan oleh bakteri , idealnya bakteri tersebut akan mati setelah sipenderita mengkonsumsi obat (antibiotik), namun pada beberapa kasus sebagian bakteri bermutasi dan membentuk kekebalan terhadap antibiotik yang dikonsumsi, sehingga pemberian antibiotik dengan dosis yang sama pada kasus berikutnya tidak akan membunuh bakteri dan menyebabkan penyakit tidak kunjung sembuh.

 

 

MENGIKUTI PETUNJUK DOKTER

Salah satu cara agar resistensi bakteri tidak terjadi adalah dengan mengikuti petunjuk dokter meskipun ini tidak 100% efektif akan tetapi setidaknya dapat mengurangi resiko tersebut. Contoh misalnya anda mendapat dosis obat yang harus dikonsumsi selama 5 hari bersama dengan obat-obat yang lain, biasanya si dokter akan mengatakan ” antibiotiknya dihabiskan ya”. Kemudian setelah 2 hari mengkonsumsi obat tersebut anda merasa sudah sehat , apakah anda boleh berhenti mengkonsumsi obat yang diberikan untuk jangka waktu 5 hari tersebut ? Jawabannya adalah boleh kecuali antibiotiknya. Maksudnya adalah anda boleh tidak mengkonsumsi obat lain selain antibiotik, akan tetapi antibiotiknya harus dihabiskan, sebab jika anda hentikan maka terjadilah yang disebut kekebalan antibiotik seperti kasus diatas. Bakteri akan menjadi kebal, dan untuk membunuhnya maka dosis antibiotik harus ditingkatkan, bukankah meningkatkan dosis antibiotik akan beresiko membuat ginjal kita menjadi bermasalah ? Dikarenakan hal ini pulalah kenapa saat ini dosis antibiotik di bawah 200 mg jarang ditemukan, yang paling banyak ada dipasaran adalah 500 mg, padahal sekitar 40 tahun yang lalu justru yang paling banyak dipasaran adalah antara 100 – 250 mg

 

 

Ini berarti kebutuhan produk antibiotik semakin lama dosisinya semakin meningkat disebabkan bakteri penyebab penyakit semakin resisten. Bukan tidak mungkin 30 tahun yang akan datang kita tidak menemukan lagi produk antibiotik yang beratnya 500mg/tablet , tapi yang justru banyak dipasaran adalah 1000mg/tablet .

SOLUSINYA ADALAH PROPOLIS

Nah bagaimana caranya agar peristiwa diatas tidak terjadi, supaya penggunaan antibiotik dengan dosisi tinggi tidak membahayakan ginjal , praktisi kesehatan di negara-negara maju seperti di Amerika dan German mulai melirik antibiotik alternatif yang berbasis herbal yaitu Propolis . Propolis adalah solusi antibiotik zaman now , karena produk ini memiliki kemampuan yang relatif setara dengan produk antibiotik yang dijual dipasaran. Cuma bedanya produk yang dijual dipasaran tersebut diproduksi oleh farmasi dengan bahan sintetis ( kimia ) yang tentu saja berbahaya untuk ginjal dan beresiko membuat bakteri menjadi “resisten”. Sementara Propolis adalah produk alami yang dihasilkan oleh “lebah”. Penggunaan dalam jangka panjang tidak akan membuat bakteri menjadi “resisten” dan tidak membuat ginjal menjadi bermasalah.

Untuk penyembuhan berbagai macam penyakit biasanya Propolis bisa dikonsumsi tunggal atau dikombinasikan dengan produk yang lain .

Salah satu contoh produk antibiotik alami :

Baca juga :

 

Tanggerang, 13 Mei 2018

Edi Amsyah

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *